17 Nov 2010

PENGEMBANGAN BIOADITIF BERBASIS ATSIRI DAPAT HEMAT KONSUMSI BBM

Jakarta, 5/8/2010 (Kominfo-Newsroom) Pengembangan bioaditif yangberbasis minyak atsiri banyak memberikan implikasi positif terhadapperekonomian secara nasional diantaranya penurunan atau penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), yang pada akhirnya akan membantu menghemat devisa negara.

Selain itu, tanaman atsiri dapat dibudidayakan di lahan nonproduktif tanpa harus mengorbankan lahan produktif dan tidak tarik menarik dengan kepentingan tananam pangan, kata Direktur BioPacifik Energy, Jodi Sucipto, MBA seusai acara temu bisnis bedah produk bioaditif berbasis minyak atsiri di Gedung BPPT, Jakarta,Kamis (5/8).


Pengembangan bioaditif berbasis atsiri tersebut, berdasarkan pengujian dapat menghemat pemakaian bahan bakar rata-rata mencapai20 persen. Jika diasumsikan BBM nasional 2010 mencapai 45 juta kiloliter, maka jumlah devisa negara yang dapat dihemat dalam bentuk volume mencapai 9 juta kilo liter.

Jika asumsi 1 barel adalah 159 liter maka jumlah anggaran untuk belanja BBM dapat dihemat mencapai 56,6 juta barel. Jumlah tersebut jika disimulasikan dalam harga 1 barel yang mencapai US$ 80, maka jumlah anggaran yang dapat dihemat mencapai US$ 4,5 miliar atauRp42,75 triliun.

Tanaman atsiri adalah tanaman asli Indonesia yang memiliki berbagai macam manfaat. Minyak atsiri adalah minyak yang diproses dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, biji, buah,batang atau akar.

Beragam industri seperti industri pangan, kosmetik dan farmasi menggunakan minyak atsiri. Beberapa tanaman atsiri yang diperdagangkan saat ini antara lain sereh wangi, nilam, pala,cengkeh, kayu manis, cendana, akar wangi, melati, lavender, danmasih banyak lagi, dimana masing-masing memiliki manfaat dan fungsiyang berbeda.

Kebutuhan lahan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku secara terkait menimbulkan dampak yang besar tehadap penyerapan tenaga kerja. Kemudian dampak positif yang terjadisetelah lahan non produktif dikembangkan untuk usaha penanaman sereh wangi adalah terserapnya sejumlah besar petani.

Sebagai ilustrasi, adalah dalam 1 ha lahan budidaya sereh wangi dibutuhkan setidaknya 4 orang petani yang dapat menggarap mulai dari penanaman hingga pemanenan. Dengan pemanfaatan lahan sebanyak168.000 ha maka dibutuhkan tambahan tenaga kerja sebanyak 672.000 petani.

Selain itu, dengan pemanfaatan lahan, juga dapat meningkatkan penghasilan petani. Sebagai perbandingan upah minimum petani perhari sebesar Rp30.000 maka dalam 1 bulan (30 hari kerja) upah petani menjadi Rp900.000.

Dengan membudidayakan sereh wangi 1 ha, petani mendapatkan minyak sereh sebanyak 250 kg dengan harga minyak sereh per kg yaitu Rp80.000, maka penghasilan petani menjadi Rp12 juta/bulan, dan setelah dikurangi komponen biaya produksi sebesar 30 persen, makajumlah penghasilan petani menjadi Rp 8.400.000/bulan.

Jika dalam 1 ha lahan budidaya sereh wangi dibutuhkan setidaknya 4 orang petani untuk melakukan budidaya sereh wangi, maka setiap petani akan mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp.2.100.000/orang, artinya terdapat tambahan pendapatan petani sebesar233 persen, yang artinya terdapat peningkatan taraf hidup petani, katanya.

Ia menambahkan, hasil pengujian pada lab. Lemigas dan terhadap kendaraan di lapangan yang menggunakan produk bioaditif menunjukkan adanya penuruan emisi gas buang/opasitas kendaraan yang cukup signifikan. Hal itu, artinya akan turut membantu didalam program penurunan pemanasan global. (T. Gs/toeb)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar